Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Teladan’ Category

Kemarin saya sempat untuk melihat-lihat video Barack Obama di youtube.com dan kesan saya pertama kali ialah wow, orang ini memang seorang orator yang baik, bisa membawa pendengarnya bersemangat mendengarkan pidatonya dan terutama  cara menyampaikan point-point kampanyenya terdengar cerdas. Tema sentral yang diusungnya yaitu “Change” atau perubahan rupanya sangat mengena public Amerika saat ini yang mendambakan pemimpin yang lebih memperhatikan kondisi dalam negeri daripada sibuk dalam urusan luar negeri.

Sebagai orang keturunan Kenya dan Amerika, Obama dengan pintar menggunakan kondisinya yang unik ini sebagai entry point apa itu menjadi United States of America. Karena memang Amerika terdiri dari barbagai suku bangsa.

Hingga saat ini (18 Maret 2008) Obama masih memimpin dalam perolehan delegasi sebagai calon kandidat dari Partai Demokrat. Dari banyak survey yang dilakukan di seluruh dunia, Obama memimpin perolehan suara diantara calon Presiden Amerika lainnya.

Sekarang dunia akan menyaksikan, apakah Barack Obama dapat menjadi Presiden Amerika kulit berwarna pertama? 

Read Full Post »

Membaca berita di Republika online berjudul Perlawanan Siti Fadilah Supari membuat hati bangga. Cerita tentang anak negeri yang berjuang di level Internasional yang membuahkan hasil yang berguna bagi seluruh dunia, benar-benar membuat bangga ditengah banyak hal lain yang kurang atau tidak dapat dibanggakan.

Untuk memberikan apresiasi saya sengaja mengutip kisahnya secara lengkap di blog ini supaya kita dapat belajar:

Perlawanan Siti Fadilah Supari
Rabu, 13 Februari 2008

Wajahnya serius membicarakan ketidakadilan negara-negara maju. Kalimat demi kalimat meluncur deras. Dr Siti Fadilah Supari, satu dari sedikit warga dunia yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah dominasi badan resmi dunia dan negara adikuasa. Ia melawan dan berhasil.

Majalah The Economist London menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik. “Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi,” tulis The Economist (10 Agustus 2006).

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung (Avian Influenza/AI) menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil, negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.

Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Perintah itu diikuti Siti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong?

Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat seed virus. Dari seed virus inilah dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi…..

(lebih…)

Read Full Post »