Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2008

Dalam dunia marketing sering kali segmentasi di lakukan berdasarkan demografi dimana customer di bagi-bagi dalam besaran-besaran demografi seperti wilayah, umur, penghasilan, pekerjaan dst.

Selain itu, marketing juga kerap membagi segmentasi berdasarkan psikografi dari customer seperti life style, behavior dan interest, dst.

Dalam dunia digital kita perlu menambah segmentasi kita berdasarkan teknologi yang digunakan dan sejauh mana penggunakaannya oleh customer (level of participant) seperti yang ditulis dalam blog berikut yang ditulis oleh Charlene Li.

Dalam laporan yang berjudul “Social Technographics” Charlene Li dari Forrester membagi level of participant dari pengguna internet dalam 6 bagian seperti terlihat digambar dibawah ini.

participat ladder

Pembagian seperti ini penting terutama ketika marketer ingin membidik pangsa pasar atau merencanakan social strategy karena untuk setiap topik yang ada di internet, untuk setiap situs, pasti memiliki pola yang berbeda-beda. Demikian juga teknologi yang digunakan.

Read Full Post »

Logo Visit Indonesia

Visit Indonesia 2008 merupakan program promosi Indonesia yang menurut saya baik sekali. Walaupun masih banyak kekurangan disana-sini namun usaha seperti ini harus dimulai sekarang juga. Memang ada resiko dimana turis asing yang datang dengan ekspektasi tinggi dapat kecewa bila melihat kondisi yang ada, namun kalau tidak dimulai saya pikir kita tidak akan pernah berjalan kedepan.

Dalam program Visit Indonesia 2008 ini pemerintah meluncurkan 100 program acara yang tersebar diberbagai tempat sepanjang tahun 2008 ini artinya kurang lebih tiap 3-4 hari ada event yang dilakukan. Saya sendiri kurang tahu apakah event tersebut khusus di lakukan dalam rangka program ini atau existing event yang di rangkaikan dalam program ini. Apapun faktanya saya mendukung sepenuhnya.

Berkaitan dengan hal ini saya memiliki beberapa ide yang mungkin sudah atau belum terpikir untuk memperkuat program visit Indonesia 2008, berikut ini beberapa ide:

1.Grand Event.
Saya membayangkan ada suatu event besar atau grand event di akhir tahun sebagai Gong pembukaan dari program. Event ini bagusnya dilakukan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dibuat semacam mega basar dimana setiap daerah harus berpartisipasi. Bayangannya seperti Jakarta Fair namun kelasnya Indonesia. Tiap anjungan mengisinya dengan produk daerah dan budaya-budaya daerah. Pihak kedutaan di undang dan di beri ruang untuk promosi, juga untuk mengisi acara. Undangan juga di sebar keseluruh Negara asing.

Tujuan dari acara ini untuk memperkenalkan budaya Indonesia dan potensi wisatanya pada wisatawan asing dan domestic. Jadi semacam pengenalan menyeluruh mengenai Indonesia.

Tantangannya tentunya bagaimana membuat turis asing mau datang melihat acara ini bisa saja di buat paket wisata extra murah, dst.

2.Internet
Menggunakan Internet sebagai sarana promosi yang relative murah dan efektif, beberapa yang bisa dilakukan (Beberapa sudah dilakukan saya rasa) ialah:

  • Menyebarkan image-image dan video-video mengenai Indonesia melalui official site, melalui social network site, melalui download site, dst.
  • Mengekspose berita-berita event ataupun berita positif mengenai Indonesia melalui penyediaan widget khusus Visit Indonesia 2008.
  • Membuat Blog atau Planet (kumpulan blog) yang memuat mengenai wisata di Indonesia, terutama yang menggunakan bahasa Inggris.
  • Memanfaatkan forum-forum diskusi, social network site, untuk berpromosi
  • Masuk dalam milis-milis asing mengenai budaya, wisata, dan dagang untuk memasukkan informasi mengenai Indonesia.
  • Membuat milis khusus Visit Indonesia 2008
  • Membuat game online yang menarik untuk dimainkan
  • Membuat viral Visit Indonesia 2008 yang menarik.
  • Buat forum testimonial yang berisi betapa bagusnya Indonesia
  • Kalau perlu buat perbandingan potensi wisata di Indonesia dibandingkand dengan negera Asia Tenggara atau Negara Asia lainnya.

3.Paket Terintegrasi
Membuat Program atau paket yang terintegrasi antar daerah, antar event, misal ada paket khusus untuk ke 100 event, atau paket untuk semua event tentang budaya dst. Intinya adalah nuansa integratif antara event. Kalau perlu bila seseorang melihat event-event tersebut, akan mendapat point yang bisa ditukar dengan voucher belanja produk Indonesia di tempat tertentu. Disini intinya, bagaimana membangun program yang terintegrasi.

4.Direct Video
Selain Internet, technologi mobile saat ini memungkinkan kita mengakses video dari sebuah kamera CCTV. Pemerintah bisa memasang kamera di semua lokasi turis unggulan, kemudian calon pengunjung dapat mengakses kamera tersebut dan melihat live video dari negaranya. Misal bagaimana turis dapat melihat senja di Tanah Lot Bali melali kamera, hal ini akan memicu keinginan untuk mengunjungi langsung. Note: Point of viewnya tentunya harus bagus.

5.Ambasador
Menggunakan tokoh-tokoh asing (prefer dari negara-negara terkait) untuk di angkat sebagai ambasador dari Visit Indonesia 2008, jadi bukannya mengangkat orang Indonesia, namun misalkan tokoh asing seperti Barack Obama (kalau beliau ternyata tidak jadi presiden) untuk turut mempromosikan Indonesia. Kalau ternyata beliau jadi presiden US, mungkin Brat Pitt, atau Harisson Ford bisa juga sebagai gantinya :-). Intinya tokoh yang mendunia.

6.Barack Obama factor
Saat ini mata dunia sedang mengarah pada kampanye presiden di USA, Barack Obama salah satu calon dari partai demokrat pernah hidup dan berkembang di Indonesia. Fakta ini jika dimanfaatkan dengan benar dapat mengangkat nama Indonesia di level international. Cukup dengan mengkampanyekan, misalkan:

” Do you know that Barack Obama, get his charming character from Indonesia?”

Dan kampanye ini di arahkan untuk mereka yang berada di Amerika dan Eropa.
Kesempatan ini tidak datang dua kali loeh.

7.Special Tour
Saya pernah dengar bahwa Indonesia memiliki salah satu lokasi surfing terbaik didunia di banyuwangi. Juga memiliki taman laut salah satu yang terbaik di dunia di Sulawesi. Juga memiliki lokasi Gantole terbaik di dunia. Indonesia juga memiliki hutan tropis yang kedua terbesar di dunia. Semua hal-hal yang unik ini seharusnya dapat di godok untuk membuat special tour bagi turis.

8.Kampanye kedalam
Kemarin saya membaca (lupa persisnya dimana) orang Indonesia jangan bicara buruk tentang negaranya. Well,… dalam batas-batas tertentu saya setuju. Kalau sebagian besar orang Indonesia bicara hal-hal yang baik dan positif tentang Indonesia, maka kemungkinan masyarakat kita akan menjadi lebih optimis. Bila dan hanya bila masyarakat kita dapat menghargai negaranya sendiri (dalam hal ini potensi wisatanya) maka turis asing tentunya juga akan percaya untuk datang ke Indonesia. Perubahan paradigma lainnya yaitu penghargaan, dan keramahan juga harus di benahi hingga ke level pedagang dan mereka-mereka yang bersentuhan langsung dengan turis karena experience para turis itu pada akhirnya ditentukan oleh bagaimana masyarakat kita bersikap.

Demikianlah beberapa ide mengenai Visit Indonesia 2008 yang sempat menyangkut di kepala saya. Kalau ada yang mau menambahkan monggo.

Read Full Post »

Tulisan ini diambil dari tulisan oleh Kevin Kelly the Technium,  dalam tulisannya yang berjudul Better than free. Saya mencoba menyadurnya secara bebas menjadi beberapa pokok pikiran penting, dalam bahasa Indonesia ditambah beberapa pemikiran pribadi. Berikut dasar-dasar argumen yang dibawanya:

Internet pada dasarnya ialah mesin fotocopy/penggandaan. Internet menggandakan apa saja dari mulai action, character, pemikiran, musik, video, dll. Digital ekonomi terutama yang berbasis Internet berdiri diatas semua proses penggandaan ini, dan dalam konteks media digital, copy atau penggandaan sering kali tidak hanya murah namun juga free.

Sedemikian cepat dan banyaknya proses copy mengcopy ini sehingga mengutip dari Kevin:

“When copies are super abundant, they become worthless.
When copies are super abundant, stuff which can’t be copied becomes scarce and valuable”

Jadi dalam ekonomi digital ini benda yang berharga ialah sesuatu yang tidak dapat di copy atau di gandakan. Misalkan kepercayaan, nama baik dst. Kevin menggolongkan ada 8 kualitas intangible yang menjadi berharga dalam dunia digital. Dia menyebutnya “generatives” karena valuenya di bangun dari proses generated, grown, cultivated, nurtured, dst.

Ke delapan hal  inilah yang kemungkinan besar akan menjadi dasar dan model bisnis dari perusahaan-perusahaan teknologi dimasa depan.

1. Immediacy
Cepat atau lambat kita mungkin bisa mencari lagu, video atau buku digital di Internet, namun untuk mendapatkannya dengan segera (immediacy) adalah hal lain yang berharga. Contohnya orang banyak pergi ke bioskop rame-rame untuk menonton film yang baru saja diputar. Orang membeli CD yang baru saja di launcing, Buku Hard cover saat diluncurkan juga dapat dijual mahal walau kemungkinan dalam beberapa waktu kedepan akan ada versi digitalnya.

Dalam industry seperti Handphone, terbukti orang rela membayar harga lebih produk Handphone seperti Nokia communicator yang saat launch di set dengan harga tinggi untuk kemudian secara bertahap turun. Waktu Sony Playstation diluncurkan, ratusan orang antri sampai menginap untuk merasakan sebagai pengguna pertamanya. Immediacy ini bisa berlaku dalam berbagai media dan industry.

2. Personalization
Copy mp3 sebuah lagi bisa dicari di Internet secara free, namun andaikata lagu yang sama di aranser ulang khusus untuk selera Anda, Anda mungkin akan membayar mahal untuknya. Buku atau Video yang free dapat dibuat value tambahan melalui proses personalisasi ini. Contoh lain obat flu tentunya tidak mahal, namun memesan obat flu yang secara khusus di design untuk DNA seseorang dapat bernilai sangat tinggi. Personalisasi tidak dapat di copy karena melibatkan interaksi antara konsumen dan pemberi jasa, artsi dan fan, produser dan pengguna. Personalisasi tentunya membutuhkan suatu relationship yang memungkinkan proses personalisasi itu sendiri.

3. Interpretation
Ada lelucon lama yang mengatakan software, free. tapi manualnya, $10,000. Lucu? Saat ini hal itu bukan lagi lelucon/joke. Perusahaan-perusahan seperti  Red Hat, Apache, dan lainnya terutama dalam industry open source menghasilkan revenuenya dari melakukan hal tersebut.
The copy of code, opensource itu  free – dan menjadi berharga hanya melalui support dan guidance. Jadi Informasi dalam bentuk digital memang free namun interpretasi bagaimana menggunakannya, apa saja yang dapat dicapai dengan informasi, analisa dan rekomendasi, manualnya itulah yang mahal dan bernilai.

4. Authenticity 
Sekalipun kita dapat mengcopy sebuat software dengan free, , bahkan jika kita tidak membutuhkan manual atau support, kita tetap perlu memastikan bahwa versi yang di download itu adalah versi yang asli. Dalam dunia fotografi, copy dari foto mungkin bisa didapat di Internet atau dimanapun, namun foto asli yang memiliki tandatangan dari sang fotografer akan bernilai jauh lebih tinggi. Lukisan juga demikian, Lukisan Monalisa yang asli harganya jauh lebih tinggi daripada harga tiruannya. Hal ini terutama berharga bagi mereka yang menamakan dirinya collector.

5. Accessibility
Kepemilikan kadang membawa konsekuensinya sendiri. Kita memerlukan tempat penyimpanan, harus merapikan dan merawatnya. Dalam dunia digital berkita juga harus melakukan back up. Bagi mereka yang tidak memiliki jiwa collector mereka dapat memilih berlangganan pada salah satu portal internet untuk mendengarkan musik apa saja atau menonoton movie apa saja atau bahkan membaca buku apasaja setiap saat. Dibandingkan dengan memiliki filenya sendiri berlangganan seperti ini lebih sederhana dan tidak merepotkan. Kedepan content digital ini akan siap diakses dari PDA’s, Laptop hingga digital TV.

6. Embodiment
Dalam bentuk dasarnya digital copy sebenarnya tidak memiliki tubuh. Kita dapat menampilkan copy dari sebuat file images digital dalam computer, PdA’s, Laptop, LCD screen. Kadang-kada kita menginginkannya dalam bentuk cetak yang indah diatas kertas khusus printing yang membuat warna-warnanya bercahaya. Dalam dunia musik, musik itu sendiri free, kita dapat mencarinya di Internet, namun wujud musik dalam bentuk live performance yang dibawakan penyanyi asli menjadi jauh lebih berharga. Jadi walau file dalam bentuk digital banyak yang free, namun proses perwujudannya dalam berbagai media yang menjadi lebih berharga.
7. Patronage
Kevin Kelly percaya bahwa “audiences WANT to pay creators”. Fans dengan senang hati memberikan penghargaan pada artists, musicians, pengarang sebagai wujud apresiasinya. Namun hal ini harus dilakukan dengan cara yang mudah dan dalam jumlah yang dapat diterima. Sebagai contoh, group Radiohead’s meluncurkan lagu dan membiarkan para fan untuk membayar mereka dengan harga terserah fan untuk free copy yang dapat didownload. Value appreciative yang timbul dalam hal ini ialah $5 per download.

8. Findability
Saat ada jutaan buku, jutaan lagu, jutaan film jutaan aplikasi yang membutuhkan perhatian user, dan kebanyakan bisa didapatkan secara free, unuk dapat di temukan dalam lautan data ini menjadi sangat berharga. Karena harga yang free saat ini tidak lagi menjamin produk atau jasa tersebut dapat ditemukan. Dalam konteks ini webisite yang memiliki konten yang bagus sekalipun akan menjadi tidak berarti jika tidak dapat di temukan oleh target pasarnya.

Kedelapan kualitas diatas membutuhkan keterampilan yang baru. Ekonomi berbasis jaringan seperti ini tidak lagi mengandalkan proses pengcopyan sebagai faktor untuk mendaptkan keuntungan. Melihat ke delapan hal diatas, bisa di lihat kedepan added value tercipta melalui attantion, perhatian, relationship, sesuatu yang baru bagi kita yang terbiasa dengan dunia ekonomi berbasis copy.

Read Full Post »

Dalam Tulisan di SWA, MarkPlus.Inc menjabarkan beberapa jebakan yang akan menyeret perusahaan untuk berperang harga serta trend-trend kedepan. Dari delapan tren kunci 2008 MarkPlus.Inc menempatkan Tren I – Penetrasi Internet meningkat taman (teknologi).

Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa walau hingga saat ini pengguna internet masih sekitar 20 jt dengan penetrasi level yang masih rendah (lihat tulisan tentang online marketing), namun dengan banyaknya akses point Internet seperti warnet, Wi-Fi d cafe-cafe, broadband, mungkin juga 3G, HSDPA, akan mendorong banyaknya pengguna internet di Indonesia. Bahkan kabarnya bila proyek Palapa Ring sudah berjalan akan ada bandwidth Internet bagi 40.000 desa. Telkom sendiri sudah berkomitmen untuk meningkatkan bandwidth International hingga 70 Gigabit per detik (Gbps) dalam empat tahun kedepan.

Informasi ini dapat menjadi triger bagi kalangan bisnis untuk mulai benar-benar memikirkan keuntungan apa yang bisa di gali dari teknologi ini, bagaimana sebaiknya mengekploitasi keunggulan internet, apa bahayanya, dst.

Dalam rekomendasi strategi no 5 nya MarkPlus juga menyarankan pemasaran dengan Internet, namun dengan pendekatan yang proporsional.

Read Full Post »

Musik & Tur

Dalam tulisan di SWA (Jan-Feb 2008) berjudul “Strategi Rapino di Kegalauan Bisnis Musik” di tulis salah satu manager Madonna Guy Oseary berujar “Dimasa lampau, orang melakukan tur untuk mempromosikan album. Sekarang mereka mengeluarkan album untuk mempromosikan tur mereka”

Sedemikian jauhnya perubahan yang diakibatkan oleh penggunaan teknologi digital yang telah banya dibahas dalam tulisan sebelumnya. Tidak heran saat ini di Amerika sebagai salah satu barometer musik dunia, Mengacu pada data Forbes, 75% pendapatan di industry musik ditahun 2006 datang dari aktivitas tur.

Tur ini juga pada akhirnya menjadi pemicu penjualan jasa lainnya seperti CD dan download. Sperti yang dilakukan oleh Live Nation di US, Sehari setelah pertunjukan mereka yang datang ke pertunjukan di tawarkan “Apakah Anda ingin membeli CD dari musik yang kemain Anda dengar?” atau ” Apakah Anda ingin men-download musik yang kemarin Anda dengar?”, dst.

Bagi  yang bergerak di industry musik, kedepan Tur pertunjukkan, unsur hiburan dan performance di atas panggung akan menjadi point utama. Kabar baik buat EO dalam dunia pertunjukan dan juga untuk profesi-profesi penunjangnya.

Read Full Post »

Membaca berita di Republika online berjudul Perlawanan Siti Fadilah Supari membuat hati bangga. Cerita tentang anak negeri yang berjuang di level Internasional yang membuahkan hasil yang berguna bagi seluruh dunia, benar-benar membuat bangga ditengah banyak hal lain yang kurang atau tidak dapat dibanggakan.

Untuk memberikan apresiasi saya sengaja mengutip kisahnya secara lengkap di blog ini supaya kita dapat belajar:

Perlawanan Siti Fadilah Supari
Rabu, 13 Februari 2008

Wajahnya serius membicarakan ketidakadilan negara-negara maju. Kalimat demi kalimat meluncur deras. Dr Siti Fadilah Supari, satu dari sedikit warga dunia yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah dominasi badan resmi dunia dan negara adikuasa. Ia melawan dan berhasil.

Majalah The Economist London menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik. “Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi,” tulis The Economist (10 Agustus 2006).

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung (Avian Influenza/AI) menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil, negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.

Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Perintah itu diikuti Siti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong?

Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat seed virus. Dari seed virus inilah dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi…..

(lebih…)

Read Full Post »

Pertanyaan seberapa cepat kita harus mengantisipasi trend digital ini sedikit banyak bisa di jawab dengan melihat Moore’s Law. Moore’s Law awalnya dicetuskan oleh co-founder Intel Gordon E Moore, Dalam Wikipedia dikatakan bahwa “that the number of transistors that can be inexpensively placed on an integrated circuit is increasing exponentially, doubling approximately every two years”.

Saat ini basis pemikiran ini sedikit banyak mengilhami orang dalam memprediksi segala sesuatu mengenai perkembangan teknologi mulai dari kapasitas hardisk, memory, bahkan resolusi kamera digital, dan resolusi LCD dst. Beberapa pihak memodifikasi waktu 2 tahun sekarang menjadi 18 bulan, namun secara essensi kurang lebih sama.

Untuk lebih menghargai seberapa besar pengaruh hukum ini terhadap perkembangan kita, marilah kita lihat perbandingan dibawah ini yang saya ambil dari web www.w3.org:

The Cray
Pada tahun 1980, komputer yang paling cepat dan paling powerful adalah Crays

Cray-1

Dan orang kemudian bermimpi kelak setiap orang akan memiliki mesin seperti ini dimejanya masing-masing. Well ternyata memang tidak perlu menunggu sampai satu generasi untuk hal itu terjadi saat ini, komputer kita dirumah memiliki kecepatan dan power lebih dari 120 kali Crays. Bahkan sebuah Handphone seperti Nokia 9300 saja 35 kali lebih hebat dari Crays.

Nokia

Bayangkan…… apa yang akan terjadi 5 tahun kedepan? Pertanyaannya balik pada pada pengaruhnya hal ini terhadap industry kita masing-masing? Jika Anda bergerak dalam bidang yang bersentuhan langsung dengan teknology, issue ini harus dijadikan salah satu perkembangan pokok, karena bisa saja sistem yang anda pasang saat ini, saat sistem siap dijalankan, teknologinya sudah ketinggalan saat itu. 

Read Full Post »

Older Posts »